Thursday, December 10, 2015

#2:berita Kebahagiaan Tidak Selamanya Pengaruhi Kesehatan


tempo.co - #2:berita Kebahagiaan Tidak Selamanya Pengaruhi Kesehatan  


TEMPO.CO, London - Kebahagiaan ternyata tidak selamanya membawa kesehatan bagi tubuh. Penelitian yang dilakukan divisi statistik medis Universitas Oxford menunjukkan, secara garis besar, hubungan antara
kesehatan dan panjang umur tidak ditemukan. Penelitian ini dilakukan terhadap seribu perempuan Inggris yang berusia 50 - 69 tahun dengan pemantauan selama lebih dari 10 tahun.

 “Kebahagiaan dan angka kesejahteraan yang dihasilkan tidak menunjukkan keterkaitan sama sekali,” ujar Kepala Peneliti, yang juga Professor Statistik Medis dan Epidemiologi di Universitas Oxford, Sir Richard Peto, seperti yang dikutip dari laman situs

New York Times, Kamis, 10 Desember 2015.

 Menurut Peto, dia dan rekannya lebih memilih penelitian yang berorientasi pada subyek. Sebab, selama ini, banyak pihak yang mempercayai bila stres dan kesedihan merupakan penyebab utama sakit. Anggapan itu bagi Peto dinilai menyesatkan karena mengesahkan orang untuk berpikir negatif terhadap penyakit mereka, bukan karena gaya hidupnya.

 “Mempercayai sesuatu yang belum terbukti kebenarannya bukanlah suatu yang baik. Akan banyak ketakutan terkait dengan pemeliharaan maupun pengobatan di dunia kesehatan,” ujar Peto.

 Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Lanchet, Rabu, 9 Desember 2015. Penelitian yang dinamakan “Million Women Study” ini dilakukan terhadap ribuan wanita di Inggris berumur 50-69 tahun. Rentang waktu penelitian dilakukan dari 1996-2011, disertai dengan kuesioner, surat resmi catatan kematian, dan rekaman medis pribadi--rahasia dari Rumah Sakit.

 Pertanyaan yang diberikan dalam kuesioner, antara lain tentang seberapa sering mereka merasa bahagia, relaks, tidak bahagia, dan stres. Mereka juga diharuskan mengisi jawaban yang diberi poin untuk beberapa kategori. Setelah itu, jawaban mereka diolah secara statistik dan dikelompokkan. Hasilnya, tidak ada hubungan antara kesedihan dan stres dan angka kematian. “Tapi belum tentu penelitian ini berlaku untuk laki-laki,” kata Peto.

0 comments:

Post a Comment